PERMINTAAN EKSPOR NEGARA TURUN MENKEU BANTU PENGUSAHA

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak menampik kondisi kinerja ekspor tanah air yang saat ini mulai menurun. Penurunan permintaan ekspor di tanah air, kata Sri Mulyani, merupakan dampak dari adanya pelemahan ekonomi di negara-negara maju.


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor pada September 2022 sebesar US$ 24,8 miliar atau turun 10,99% dibandingkan ekspor Agustus 2022.

Oleh karena itu, saat ini pemerintah akan berupaya untuk mengisi penurunan ekspor tersebut. Salah satu caranya, pemerintah akan berupaya agar permintaan domestik tetap terjaga di tengah mobilitas masyarakat yang saat ini mulai longgar.

Kendati demikian, tidak semua permintaan luar negeri yang turun bisa digantikan sepenuhnya dengan permintaan di dalam negeri.




"Dari sisi domestic demand, kita harapkan momentumnya itu memberikan kompensasi terhadap permintaan yang turun dari luar negeri," jelas Sri Mulyani saat di temui di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (2/11/2022).

"Namun kalau demand tidak mungkin substitute seluruhnya kita akan kompensasi," kata Sri Mulyani lagi.

Disamping itu, kata Sri Mulyani, pemerintah juga siap untuk mendukung dunia usaha dengan berbagai kompensasi, seperti akses permodalan.

Dalam merespon gejolak ekonomi global, kata Sri Mulyani, dirinya bersama otoritas terkait juga akan memformulasikan kebijakan yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Policy perlu kita formulasikan lebih lanjut dalam merespon trend global," tuturnya.

Adapun pelemahan ekspor juga tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada di level 51,8 pada Oktobers 2022. Kendati demikian, level PMI tersebut menandakan sektor manufaktur tetap dalam tahap ekspansif, namun menurun dibandingkan September yang sebesar 53,7.

"Manufaktur kita masih di atas zona ekspansif, walaupun lebih rendah dari bulan September. Kita perkirakan dari sisi permintaan ekspor akan alami dampak dengan adanya kemungkinan pelemahan di negara maju," jelas Sri Mulyani.