PRODUKSI MINYAK INDONESIA MASIH LEMAH

Di tengah melejitnya harga minyak mentah dunia, ternyata belum mampu membangkitkan produksi minyak dan gas bumi di dalam negeri. Harga minyak bahkan sempat melejit ke atas US$ 100 per barel. Bahkan, sempat mencapai hampir US$ 128 per barel pada awal Maret 2022.

Pada perdagangan Senin (17/10/2022) harga minyak mentah Brent tercatat US$ 92,22 per barel, naik 0,64% dibandingkan posisi sebelumnya. Sedangkan jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya menguat 0,61% ke US$ 86,13 per barel.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan bahwa realisasi produksi terangkut (lifting) minyak dan gas bumi sampai September 2022 masih belum mencapai target 100%.


Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, lifting minyak sampai kuartal III 2022 ini baru mencapai 610,1 ribu barel per hari (bph) atau 86,8% dari target lifting minyak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 sebesar 703 ribu bph.

Begitu juga dengan salur (lifting) gas bumi tercatat baru mencapai 5.353 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 92,3% dari target tahun ini sebesar 5.800 MMSCFD.

Dengan demikian, realisasi lifting migas hingga 30 September 2022 tercatat sebesar 1.562 juta barel setara minyak per hari (BOEPD) atau 89,8% dari target 1.739 juta BOEPD.

Dwi mengatakan, ada beberapa alasan yang menjadi penyebab lifting migas hingga kuartal III 2022 ini belum tercapai.

"Banyak hal yang menyebabkan produksi minyak dan gas ini. Produksi di awal tahun juga masuknya tidak setinggi yang diharapkan, sehingga produksi di awal tahun masih di level 616 ribu bph," ungkapnya saat konferensi pers, Senin (17/10/2022).

Dia menyebut, pada awal tahun produksi minyak tidak setinggi yang diharapkan karena adanya gangguan di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd. Akibatnya, pada Januari 2022 ada penghentian operasi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown) dan penurunan produksi mencapai sekitar 30 ribuan bph.

Kemudian, pada April juga ada gangguan pipa dan longsor juga di Blok Cepu, sehingga sampai Juni juga ada tambahan pengurangan produksi sekitar 5.000 bph.

Lalu, pada Juli 2022 ada gangguan lagi di PHE OSES di mana terjadi pipa bocor, sehingga juga berimbas pada penghentian produksi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown). Pada Juli, pengurangan produksi sekitar 10 ribu bph, dan sampai September justru semakin meningkat karena ada kebocoran pada offloading hose, sehingga penurunan produksi mencapai sekitar 20 ribu bph.

"Hari ini sudah pulih, kecuali yang PHE OSES," ucapnya.

Dwi juga menyebut, realisasi rasio penggantian cadangan terhadap produksi (Reserve Replacement Ratio) telah mencapai 97,5% atau 558,85 juta barel setara minyak.

Adapun untuk penerimaan negara telah mencapai US$ 13,95 miliar atau 140% dari target APBN US$ 9,95 miliar atau 83% dari target APBNP 2022 US$ 16,7 miliar.

Sedangkan realisasi investasi hulu migas hingga 30 September 2022 tercatat mencapai US$ 7,7 miliar atau 60% dari target US$ 13,2 miliar tahun ini.