76 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Tergantung Bangsa Lain





Jakarta - Pemerhati
, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kembali membukukan defisit pada kuartal II-2021. Gara-garanya adalah tekor di transaksi berjalan (current account) yang tidak bisa ditutup oleh pos transaksi modal dan finansial.

Bank Indonesia (BI) melaporkan, NPI pada kuartal II-2021 berada di posisi defisit US$ 450 juta. Memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya yang surplus luar biasa hingga mencapai US$ 4,06 miliar.

NPI menggambarkan arus devisa yang masuk ke perekonomian. Ada yang dari ekspor-impor barang dan jasa (transaksi berjalan) serta investasi baik di sektor riil maupun portofolio sektor keuangan (transaksi modal dan finansial).

Untuk pos yang disebut pertama, terjadi defisit US$ 2,23 miliar atau 0,77% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus US$ 1,06 miliar (0,38% PDB)

Ditelisik sedikit lebih dalam, transaksi perdagangan barang sebenarnya membukukan surplus, bahkan cukup besar yaitu mencapai US$ 8,09 miliar. Naik dibandingkan kuartal I-2021 yang surplus US$ 7,63 miliar.

Namun surplus tersebut langsung hangus oleh defisit di neraca pendapatan primer yaitu minus US$ 8,14 miliar. Defisit ini lebih dalam ketimbang kuartal I-2021 yakni minus US$ 6,75 miliar.

"Defisit neraca pendapatan primer meningkat akibat kenaikan pembayaran imbal hasil investasi berupa dividen seiring perbaikan kinerja korporasi pada periode laporan," sebut laporan BI.

Well, inilah penyakit menahun dari perekonomian Indonesia. Ketergantungan terhadap investasi asing membuat neraca pendapatan primer jebol.

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, porsi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal II-2021 adalah 50,9%. Singapura, Hong Kong, dan Belanda adalah tiga negara penanam modal terbesar di Tanah Air.

Kuatnya perekonomian nasional pada kuartal II-2021, dengan pertumbuhan ekonomi di atas 7%, tentu berimbas pada peningkatan laba korporasi. Ketika yang menikmati laba itu ada perusahaan asing, maka sebagian tentu disetorkan ke kantor pusat di luar negeri. Ini yang membuat defisit neraca pendapatan primer semakin dalam.

Selain itu, neraca jasa juga membukukan defisit yang cukup besar yaitu minus US$ 3,65 miliar. Lebih dalam ketimbang defisit kuartal sebelumnya yaitu US$ 3,37 miliar.

Ini juga penyakit lama yang belum terselesaikan. Saat ekonomi Ibu Pertiwi bergairah, otomatis aktivitas ekspor-impor merekah.

Masalahnya, Indonesia masih mengandalkan asing dalam pengiriman barang, baik ekspor maupun impor. Industri perkapalan dan logistik nasional belum bisa diandalkan untuk memenuhi peningkatan permintaan pengiriman.

"Defisit neraca jasa juga meningkat, antara lain disebabkan oleh defisit jasa transportasi yang melebar akibat peningkatan pembayaran jasa freight impor barang," tambah keterangan BI.

Sementara di sisi transaksi modal dan finansial, Indonesia masih mampu membukukan surplus US$ 1,92 miliar pada kuartal II-2021. Walau masih surplus, tetapi jauh menurun dibandingkan kuartal I-2021 yang sebesar US$ 5,55 miliar.A

Andai transaksi modal dan finansial defisit, tentu defisit NPI bakal lebih dalam. Lagi-lagi, Indonesia harus berterima kasih kepada kekuatan asing dalam menopang surplus transaksi modal dan finansial.

"Surplus transaksi modal dan finansial tersebut ditopang oleh aliran masuk neto (net inflows) investasi langsung yang meningkat menjadi sebesar US$ 5,3 miliar terutama dalam bentuk modal ekuitas sejalan dengan prospek perekonomian domestik yang membaik. Net inflows investasi portofolio tetap terjaga sebesar US$ 4,4 miliar, meski sedikit turun dari US$ 4,9 miliar pada triwulan sebelumnya sejalan dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih berlangsung," papar keterangan BI.

Di satu sisi, Indonesia oleh berbangga karena investor asing masih memberi kepercayaan dan bersedia menanamkan modal, baik di sektor riil maupun sektor keuangan. Kepercayaan investor asing ini yang membuat keseimbangan eksternal Indonesia mampu terjaga.

Akan tetapi, di sisi lain Indonesia perlu prihatin. Sudah merdeka selama 76 tahun, tetapi ternyata nasib Indonesia masih ditentukan oleh kekuatan asing.



Agus Kurniawan/Pemerhati.com